Rabu, 16 September 2015

VIRUS



Kata "virus" mungkin sudah tidak asing lagi bagi kalian semua ya ?
Ya, virus tersebar dibanyak habitat bahkan organisme sekalipun.

Awal ditemukanya virus yakni dengan eksperimen yang dilakukan oleh Dmitri Ivanovsky yang membuat ekstrak daun tembakau yang terkena bercak kuning, dari situlah ekstrak tersebut dioleskan pada daun tembakau yang sehat, daun yang terkena sehat tersebut ikut terkena bercak kuning. Seandainya daun tersebut terkena bakteri, daun yang sehat tidak akan terserang karena bakteri tersaring oleh saringan keramik. Ivanovsky menduga penyebab penyakit tersebut karena bakteri yang sangat kecil.

Dugaan  tersebut keliru, karena Wendell M Stanley berhasil mengisolasi dan mengkristalkan virus mosaik tembakau.Dari hasil tersebut virus bukan sel karena dapat dikristalkan. Virus merupakan peralihan biotik dan abiotik.

Struktur Virus

Virus hanya tersusun atas kapsid(selubung) yang terdiri dari molekul protein dan asam nukleat.
Satu unit lengkap virus yang menginfeksi organisme hidup disebut virion.
Bentuk virus ada yang ulir ada pula yang ikosahedral. Tergantung dari jenis virusnya, misal TMV (Tobbaco Mosaic Virus) yang menyerang daun tembakau berbentuk ulir. Bakteriofag memiliki struktur kepala ikosahedral. 


Gambar 1. virus TMV (tobacco Mosaic Virus)

Bagian tubuh virus bervariasi tergantung dari berbagai macam bentuk. Pada tubuh bakteriofag terdapat 2 macam yakni bagian kepala dan ekor. Ekor sebagai alat penginfeksidan ada ujung serabut ekor yang berfungsi sebagai penerima rangsang.
Selubung atau kapsid tersusun atas molekul protein.
Ukuran virus
Dapatkah kita melihat virus? Pasti tidak karena virus memiliki ukuran mikroskopik yaitu sekitar 20-300 milimikron.

Reproduksi virus.

Cara reproduksi Virus adalah dengan cara replikasi (perbanyakan diri) di dalam sel inang. Tahap-tahap Reproduksi virus terdiri atas lima tahap :
1. Tahap Adsorpsi
Virion (partikel lengkap virus) menempel pada bagian reseptor speseifik sel inang, virus menempel dengan mempergunakan serabut ekornya. Reseptor merupakan molekul khusus yang ada pada membran sel inang yang dapat berinteraksi dengan virus. Yang menentukan patogenesis virus (mekanisme infeksi dan perkembangan penyakit) ialah ada atau tidaknya reseptor, misalnya virus polio hanya dapat melekat pada sel susunan saraf pusat dan saluran usus pimata. Virus rabies diduga berinteraksi dengan asetilkolin. Virus HIV berikatan dengan reseptor T CD4 pada sel sitem imun.

2. Tahap Penetrasi
Pada tahap penetrasi ini, selubung ekor berkontraksi untuk membuat lubang yang menembus dinding dan membran sel. Selanjutnya, virus menginjeksikan materi genetiknya ke dalam inang sehingga kapsid virus menjadi kosong(mati).

3. Tahap Sintesis (Eklifase)
Pada tahap sintesis ini, DNA sel inang dihidrolisis dan dikendalikan oleh materi genetik virus untuk membuat asam nukleat (salinan gonom) dan protein komponen virus.

4. Tahap Pematangan

Hasil sintesis berupa asam nukleat dan protein dirakit menjadi partikel-partikel virus yang lengkap sehingga akhirnya terbentuk virion-virion baru

5. Tahap Lisis
Fag menghasilkan lisozim, yaitu enzim perusak dinding sel inang. Rusaknya dinding sel inang dapat mengakibatkan terjadinya osmosis ke dalam sel inang, sehingga sel inang membesar dan akhirnya jadi pecah. Partikel virus baru yang keluar dari sel akan menyerang sel inang lainnya.
Siklus pada reproduksi virus terbagi atas 2 cara yakni :


 
Gambar 2. siklus litik dan lisogenik
 
a. Siklus litik

Siklus litik ini terjadi bila pertahanan sel inang lebih lemah dibandingkan daya infeksi virus sehingga tahap adsorpsi, penetrasi, sintesis, pematangan, dan lisis dapat berlangsung secara cepat. Virus yang mampu bereproduksi dengan siklus litik ini disebut virus virulen. Pada siklus litik sel inang akan pecah dan mati serta terbentuklah virion-virion baru.

b. Siklus lisogenik

Siklus lisogenik terjadi bila inang memiliki pertahanan yang lebih kuat dibandingkan daya infeksi virus sehingga sel inang tidak segera pecah, bahkan dapar bereproduksi secara normal (membelah diri). Pada siklus lisogenik, terjadilah replikasi genom virus, tetapi tidak menghacurkan sel inang. DNA fag berinteraksi ke dalam kromosom sel inang untuk membentuk profag. Bila sel inang yang mengandung profag bereproduksi dengan membelah diri, maka profag dapat diwariskan kepada kedual sel anaknya.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar