Kata "virus" mungkin sudah tidak asing
lagi bagi kalian semua ya ?
Ya, virus tersebar dibanyak habitat bahkan
organisme sekalipun.
Awal ditemukanya virus yakni dengan eksperimen
yang dilakukan oleh Dmitri Ivanovsky yang membuat ekstrak daun tembakau
yang terkena bercak kuning, dari situlah ekstrak tersebut dioleskan pada daun
tembakau yang sehat, daun yang terkena sehat tersebut ikut terkena bercak
kuning. Seandainya daun tersebut terkena bakteri, daun yang sehat tidak akan
terserang karena bakteri tersaring oleh saringan keramik. Ivanovsky menduga
penyebab penyakit tersebut karena bakteri yang sangat kecil.
Dugaan tersebut keliru, karena Wendell M
Stanley berhasil mengisolasi dan mengkristalkan virus mosaik tembakau.Dari
hasil tersebut virus bukan sel karena dapat dikristalkan. Virus merupakan
peralihan biotik dan abiotik.
Struktur Virus
Virus hanya tersusun atas kapsid(selubung) yang
terdiri dari molekul protein dan asam nukleat.
Satu unit lengkap virus yang menginfeksi
organisme hidup disebut virion.
Bentuk virus ada yang ulir ada pula yang
ikosahedral. Tergantung dari jenis virusnya, misal TMV (Tobbaco Mosaic Virus)
yang menyerang daun tembakau berbentuk ulir. Bakteriofag memiliki struktur
kepala ikosahedral.
Gambar 1. virus TMV (tobacco Mosaic Virus)
Bagian
tubuh virus bervariasi tergantung dari berbagai macam bentuk. Pada tubuh
bakteriofag terdapat 2 macam yakni bagian kepala dan ekor. Ekor sebagai alat
penginfeksidan ada ujung serabut ekor yang berfungsi sebagai penerima rangsang.
Selubung
atau kapsid tersusun atas molekul protein.
Ukuran
virus
Dapatkah
kita melihat virus? Pasti tidak karena virus memiliki ukuran mikroskopik yaitu
sekitar 20-300 milimikron.
Reproduksi
virus.
Cara reproduksi Virus adalah dengan cara replikasi (perbanyakan diri)
di dalam sel inang. Tahap-tahap Reproduksi virus terdiri atas lima tahap :
1. Tahap Adsorpsi
Virion (partikel lengkap virus) menempel pada bagian reseptor speseifik sel inang, virus menempel dengan mempergunakan serabut ekornya. Reseptor merupakan molekul khusus yang ada pada membran sel inang yang dapat berinteraksi dengan virus. Yang menentukan patogenesis virus (mekanisme infeksi dan perkembangan penyakit) ialah ada atau tidaknya reseptor, misalnya virus polio hanya dapat melekat pada sel susunan saraf pusat dan saluran usus pimata. Virus rabies diduga berinteraksi dengan asetilkolin. Virus HIV berikatan dengan reseptor T CD4 pada sel sitem imun.
2. Tahap Penetrasi
Pada tahap penetrasi ini, selubung ekor berkontraksi untuk membuat lubang yang menembus dinding dan membran sel. Selanjutnya, virus menginjeksikan materi genetiknya ke dalam inang sehingga kapsid virus menjadi kosong(mati).
3. Tahap Sintesis (Eklifase)
Pada tahap sintesis ini, DNA sel inang dihidrolisis dan dikendalikan oleh materi genetik virus untuk membuat asam nukleat (salinan gonom) dan protein komponen virus.
4. Tahap Pematangan
Hasil sintesis berupa asam nukleat dan protein dirakit menjadi partikel-partikel virus yang lengkap sehingga akhirnya terbentuk virion-virion baru
5. Tahap Lisis
Fag menghasilkan lisozim, yaitu enzim perusak dinding sel inang. Rusaknya dinding sel inang dapat mengakibatkan terjadinya osmosis ke dalam sel inang, sehingga sel inang membesar dan akhirnya jadi pecah. Partikel virus baru yang keluar dari sel akan menyerang sel inang lainnya.
Virion (partikel lengkap virus) menempel pada bagian reseptor speseifik sel inang, virus menempel dengan mempergunakan serabut ekornya. Reseptor merupakan molekul khusus yang ada pada membran sel inang yang dapat berinteraksi dengan virus. Yang menentukan patogenesis virus (mekanisme infeksi dan perkembangan penyakit) ialah ada atau tidaknya reseptor, misalnya virus polio hanya dapat melekat pada sel susunan saraf pusat dan saluran usus pimata. Virus rabies diduga berinteraksi dengan asetilkolin. Virus HIV berikatan dengan reseptor T CD4 pada sel sitem imun.
2. Tahap Penetrasi
Pada tahap penetrasi ini, selubung ekor berkontraksi untuk membuat lubang yang menembus dinding dan membran sel. Selanjutnya, virus menginjeksikan materi genetiknya ke dalam inang sehingga kapsid virus menjadi kosong(mati).
3. Tahap Sintesis (Eklifase)
Pada tahap sintesis ini, DNA sel inang dihidrolisis dan dikendalikan oleh materi genetik virus untuk membuat asam nukleat (salinan gonom) dan protein komponen virus.
4. Tahap Pematangan
Hasil sintesis berupa asam nukleat dan protein dirakit menjadi partikel-partikel virus yang lengkap sehingga akhirnya terbentuk virion-virion baru
5. Tahap Lisis
Fag menghasilkan lisozim, yaitu enzim perusak dinding sel inang. Rusaknya dinding sel inang dapat mengakibatkan terjadinya osmosis ke dalam sel inang, sehingga sel inang membesar dan akhirnya jadi pecah. Partikel virus baru yang keluar dari sel akan menyerang sel inang lainnya.
Siklus pada reproduksi virus terbagi atas 2 cara yakni :
Gambar 2. siklus litik dan lisogenik
a. Siklus litik
Siklus litik ini terjadi bila pertahanan sel inang lebih lemah dibandingkan daya infeksi virus sehingga tahap adsorpsi, penetrasi, sintesis, pematangan, dan lisis dapat berlangsung secara cepat. Virus yang mampu bereproduksi dengan siklus litik ini disebut virus virulen. Pada siklus litik sel inang akan pecah dan mati serta terbentuklah virion-virion baru.
b. Siklus lisogenik
Siklus lisogenik terjadi bila inang memiliki pertahanan yang lebih kuat dibandingkan daya infeksi virus sehingga sel inang tidak segera pecah, bahkan dapar bereproduksi secara normal (membelah diri). Pada siklus lisogenik, terjadilah replikasi genom virus, tetapi tidak menghacurkan sel inang. DNA fag berinteraksi ke dalam kromosom sel inang untuk membentuk profag. Bila sel inang yang mengandung profag bereproduksi dengan membelah diri, maka profag dapat diwariskan kepada kedual sel anaknya.










